Kids MEXT Door 8_Kosong

_____ Setelah penantian panjang dari mengirim berkas ke kampus, akhirnya LoPA (Letter of Provisional Acceptance) sampai juga pada awal September. Memang, ini bukan menjadi pernyataan resmi kalau aku 100% mendapatkan beasiswa MEXT, tapi setidaknya ini bisa menjadi separuh peganganku. Aku hanya mendapatkan LoPA dari 1 kampus saja karena aku hanya mengirim berkasku kepada 1 kampus. Kenapa demikian? Alasan pertama adalah aku sudah sangat sreg dengan senseinya, jadi kalau udah cocok ngapain cari yang lain, untuk apa mendua? Alasan ke dua adalah karena kalau mengirim lebih dari 1, jika salah satunya menyatakan menerima dan mengirimkan LoPA, maka kitalah yang harus mengirim surat permohonan maaf dan penolakan kepada kampus yang kita duakan. Sakit kan? gaenak banget diduain, :(. Makanya, jika sudah merasa klop senseinya, kunci aja pilihannya pada 1 universitas, apalagi kalau memang sudah kenal senseinya dari lama. Setelah LoPA sampai, akuk kemudian mengabari orang tuaku kembali untuk memberitahu mereka berita baik kalau aku “separuh” diterima di Tohoku University, salah satu dari 7 universitas imperial di negeri sakura.

Yeei, LoPA ku sudah sampai (source: personal gallery)

_____ Setelah mendapatkan LoPA, aku segera mencetak hasil scan-nya sebanyak 3 rangkap dan memasukkannya ke dalam amplop coklat untuk dikirim ke kedutaan bersama berkas lainnya (seperti yang tertera di postingan sebelumnya). Setelah itu, aku melakukan konfirmasi kepada kedutaan bahwa aku telah mengirimkan berkasnya sesuai instruksi, berikut melampirkan resi pengirimannya melalui email. Kemudian, aku mengabari sensei bahwa aku sudah mengurus semua berkas yang dibutuhkan dan tinggal menunggu pengumuman resmi dari MEXT nya sendiri. Sambil menunggu, sensie memintaku untuk membaca jurnal penelitian yang diterbitkan oleh personil lab nya dan buku terkait. Wah rasanya sudah tak sabar untuk segera pergi ke Jepang.

_____ Sambil menunggu pengumuman akhirnya keluar (rencananya sih sekitar akhir Januari-awal Februari 2022, lama yah~), aku mengisi kegiatanku dengan bergabung ke dalam grup MEXT di Discord yang isinya emang kebanyakan gamers (gamers’ pride XD). Grup tersebut berisi mereka-mereka yang sudah mendapatkan surat pernyataan lolos primary screening, baik itu Research Student, Undergraduate, College of Technology, hingga Specialized Training. Bergabung dengan komunitas semacam itu tidak hanya memperluas koneksi (syukur-syukur bisa ketemu dan main bareng di Jepang), tetapi juga bisa saling mencari tahu kabar terkini tentang Jepang, MEXT, dan info lainnya. Selain itu, aku juga tetap menjalin komunikasi dengan kedua calon kakak pembimbingku di lab sensei yang orang Indonesia serta seorang kakak calon penerima MEXT di lab yang sama, kampus yang sama, sebut saja mas H. Karena mas H tidak bisa berbahasa Jepang sama sekali dan belum pernah ke Jepang juga, jadi banyak hal yang kita bicarakan, mulai dari anime kesukaannya, slam dunk (aku yang sama sekali ga suka anime selain genre detektif dan monster monsteran jadi tau), hingga kekhawatirannya kalau nanti pergi ke sana. Wes jenengan tenang wae mas!

Mulai merasa digantung (source: Irasutoya)

_____ Tak hanya itu, aku juga mencari arubaito alias kerja sambilan sebelum aku berangkat ke Jepang, jadi sudah ada bekal untuk menyambung hidup nantinya di Jepang. Aku mendaftar arubaito pada sebuah perusahaan rintisan (startup) yang bertempat di Kōbe, Prefektur Hyōgo. Perusahaan tersebut bergerak di bidang layanan web dan pendidikan. Pekerjaanku adalah membuat konten, menerjemahkan, serta mengajar Bahasa Indonesia untuk orang Jepang. Agak jauh sih dari bidang kuliahku maupun pekerjaanku sebelumnya, tapi OK aja selama itu pekerjaan yang Halal dan bermanfaat. Sejauh ini, pengalamanku bekerja disana cukup seru karena selain bisa me-refresh ingatan kosakata dan tata bahasa pada Bahasa Jepang, aku juga bisa melatih kemampusan komunikasiku dalam Bahasa Jepang yang sudah mulai berdebu tak terpakai. Oh iya, pendapatannya lumayan, pake banget loh, hihi.

Bentar-bentar, Kōbe sama Sendai kan jauh banget. Emang boleh?

Netijen kepingin tau

_____ Ya jelas boleh lah, ferguso, kan mengajarnya daring, onlen! Orang yang kuajarkan juga berasal dari berbagai latar, ada yang ibu rumah tangga, ada karyawan yang akan pindah tugas ke Indonesia, ada mahasiswa yang akan pertukaran pelajar ke Indonesia, dan sebagainya. Tentunya, ini akan jadi pengalaman yang menarik untukku, apalagi nantinya aku akan banyak berkomunikasi dalam Bahasa Jepang, jadi sudah ada gladiresiknya gitu deh. Selama menunggu, aku memang merasa seperti digantung, dicekik tanpa tali karena emailku benar-benar sepi hampir tanpa kabar. Sekalinya ada, itu juga email otomatis dari tempat kerja sambilanku yang berupa pengingat bahwa 1 jam lagi akan mengajar murid (yang ini penting banget) atau email dari si LINA linkedin atau dari Daijob (yang 2 ini sih spam).

Kerja sambilan yang bisa dikerjain jarak jauh (source: Irasutoya)

_____ Dalam rentang waktu 4 bulan menunggu sejak pengumpulan berkas untuk secondary screening (akhir September) hingga pengumuman resmi MEXT keluar (akhir Januari), aku mengurus pasporku yang sudah kedaluarsa. Kenapa harus saat itu banget? Karena kalau mengurusnya pas pengumumannya keluar dan tau-tau diminta untuk bikin visa, pasti akan gedandapan, kelabakan karena harus mengurus 2 hal sekaligus. Belum lagi jika memang berangkatnya dalam waktu dekat (berdasarkan cerita orang yang berangkat sebelum adanya pandemi sih gitu), tentunya akan menguras banyak energi sekaligus. Jadi, cicillah urusan berkasmu selagi senggang. Ingat 1 perkara dari 5 perkara, sempat sebelum sempit!

Pasporku warna hijau-biru kok (source: Irasutoya)

_____ Sementara menunggu, aku juga berkomunikasi dengan temanku Emmanuel (yang ada di beberapa postingan serial Fumidasou!) yang saat ini sedang berada di Tsukuba lagi karena menerima beasiswa MEXT U2U sejak Oktober 2021. Ia mengirimkan beberapa video Tsukuba diguyur salju, beberapa foto-foto saat karantina di Hotel dekat bandara Narita, serta beberapa pertanyaan terkait hidup di Jepang (terutama yang tulisannya Bahasa Jepang). Bikin iri sih, tapi anggap saja itu cambuk motivasi untuk tetap semangat dan bersabar menunggu pengumuman resmi. Aku juga terus mengobrol dengan kak S, kak R, dan mas H baik pribadi maupun di grup chat terkait lab sensei, kehidupan di Jepang, hingga info-info yang off-topic.

Pantengin email terooos tiap hari (source: Irasutoya)

_____ Ilustrasi diatas memang benar adanya. Berbulan-bulan menunggu memang membuat kita merasa gundah-gulana, tapi memantau email tiap hari adalah reaksi yang wajar karena info bisa saja datang setiap saat. Dan rupanya benar, pada awal Januari, aku menerima email lagi dari Tohoku University yang menanyakan kebutuhan asramaku, mulai dari apakah aku merokok atau tidak, ada pantangan makanan dan minuman atau tidak, menyandang disabilitas atau tidak, serta beberapa hal lainnya. Berdasarkan penjelasannya di email, hal tersebut akan menjadi pertimbangan dalam penempatan asrama nanti karena di Jepang (kalau berkaca dari pengalamanku di Tsukuba), itu ada loh asrama dan kos-kosan khusus penyandang disabilitas ataupun yang dilengkapi dengan banyak bidang miring untuk kursi roda meluncur serta lift. Dan seminggu setelah aku mengirimkan daftar kebutuhanku dan “ikrarku” untuk tidak merokok di dalam asrama.

_____ Hari-hari galau berlangsung, tanpa adanya kabar dari MEXT, kedutaan, maupun sneak peek dari pihak kampus. Pada pertengahan Januari, aku mendapat kabar dari pihak kampus bahwa mereka akan menempatkanku di sebuah asrama yang terbilang cukup OK, dengan luas kamar sekitar 16msq, perabotan lengkap, dan yang terpenting: KAMAR MANDI DALAM. Kenapa ini penting? karena untuk mencegah hal-hal merepotkan yang bisa saja terjadi kalau kamar mandinya digunakan berjamaah, alias hanya tersedia 1 per lantai. Bisa dibayangkan ketika akan mandi masih banyak peralatan mandi milik orang lain di kamar mandinya, ada rambut-rambut yg rontok, dan yang paling menyebalkan: MEMBAYAR 100 YEN untuk mandi dengan durasi sekian menit seperti di Tsukuba dulu (baca: Fumidasou! 5 – Biar Byur). Dibandingkan asrama tipe yg lain yang dapurnya di dalam kamar dan kamar mandi di luar, asramaku sih jauh lebih mending menurutku.

_____Good grief, asramanya terletak cukup dekat dengan rumah warga dan pertokoan sehingga bisa belanja dengan mudah, apalagi ada toko yang katanya menjual berbagai bahan pangan dengan harga yang cukup murah. The bane is, aku perlu sepedaan dengan jarak sekitar 6 km, dan jalanannya menanjak, menerobos daerah hutan kampus. Tapi tenang aja, aku sudah berkenalan dengan beberapa anak calon penghuni Tohoku di grup Discord MEXT, ada yang orang Kanada, Austria, Australia, dll. Beruntungnya, mereka semua laki-laki dan ditempatkan di asrama yang sama, jadi….. GAMERS UNITE! Namun, tetap saja masalah yang masih menghantui kami semua, tak hanya orang Indonesia, tapi juga orang dari negara lain adalah…. “Kapan pengumumannya keluar?”.

Jadi…. kapan pengumuman resminya nihhh? Aku lelah menunggu 😦

Aku

Itulah yang setidaknya benar-benar aku dan pendaftar lainnya rasakan, baik dalam negeri maupun luar negeri.

つづく~~>

*Cover illustration by 三船たかし、irasutoya.com

One thought on “Kids MEXT Door 8_Kosong

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: