Kopi dari Louisiana

_____ Apa yang pertama kali terpikir saat mendengar kata “kopi” ? tentu banyak dari kita akan beranggapan bahwa kopi adalah minuman yang pahit nan enak, bikin melek biar kuat begadang, bikin suasana kumpul jadi seru, hingga sohibnya rokok. Bagaimana dengan “kafe” ? tempat buat ngopi? tempat untuk nongkrong, tempat ngerjain tugas (yang akhirnya gak selesai karena dari 5 jam nongkrong hanya efektif 5 menit lebih dikit, siapa hayo? ), atau tempat untuk update foto kekinian untuk dipajang di media sosial? itu semua bisa benar adanya kok. Lantas kalau kedua hal tersebut digabung, apa yang terbesit di benak kita? Usaha bernilai jutaan hingga miliaran rupiah hingga investasi dengan nominal fantastis, baik dari investor terkemuka dalam dan luar negeri hingga dompet papah mamah sendiri? bisa jadi, tapi tentunya ada pengecualian untuk mereka yang bermodal secukupnya, mereka yang diinvestasikan oleh “N.E.K.A.T investment group” dengan kucuran keringat dan semangat.

_____ Ini adalah kisah seorang dari sekian pemuda yang yaa~h bisa dibilang menerima grant dari investasi tersebut. Radit, pemuda asal Bali yang kutemui saat magang di METI lalu berencana membuka sebuah kafe tepat di dekat kosannya. Sebenarnya saat awal magang itu ia sudah membuat rancang bangunnya dan memang sedang dalam tahap “perakitan”. Di separuh akhir periode magang, aku berkesempatan menjadi salah satu pelanggan pertamanya. Oleh karena itu, aku tau wujud awal ketika kafenya jadi.

Jadi, gimana kafenya? Apakah shining, shimmering, splendid?

Penanya

____ Nope! Shining dan shimmering nya tidak, tapi splendid nya iya. Kafenya berkonsep lebih ke arah kedai kopi, dimana orang bisa bersantai menyeruput biji kopi yang baru saja digiling dan bukan yang dibuat larutan sediaannya, dimana orang bisa bebas mengobrol dengan suara lantang tanpa harus membuat risih pengunjung yang datang, dimana pengunjung yang satu dengan lainnya bisa saling ngobrol hingga bermain kartu dan catur, bukan berswafoto ria dengan pernak-perniknya. Ya, kedai bernama Coffee Break ini diresmikan sejak minggu pertama bulan Januari 2021 dengan mengusung konsep “warkafe” (warkop-kafe). Kenapa mamanya Coffee Break? Karena minuman yang disajikan tidak hanya kopi hitam favorit kaum bapack-bapack tapi juga terdapat kopi kekinian kesukaan anak muda, sebut saja caramel macchiato misalnya. Konsep warkop yang “makan ga makan yang penting ngumpul” pun terhidangkan di tempat ini. Jadi ini memang tempat yang dirancang untuk melepas penat, meredakan kalut layaknya istirahat ngopi setelah berlelah-lelah mengikuti seminar.

Jadi, kenapa sih Radit nggak ikut-ikutan membuka kafe kekinian yang modis ?

Aku

_____ Jawabannya terletak pada kegiatan Radit. Dalam seminggu, Radit seringkali bermain badminton bersama warga di lingkungannya, entah itu di gor atau di lapangan. Bahkan saking akrabnya Radit dengan warga (terutama bapak-bapak), ia juga sempat diajak untuk main badminton bareng di luar Jakarta. Bapak-bapak sohibnya Radit pun memiliki profesi yang beragam, mulai dari penjual sayur, satpam, karyawan, hingga pejabat negara juga ada sehingga relasi yang luas pun bisa terbangun. Dengan alasan begitu, rasanya kurang cocok jika membuka kafe kekinian yang hanya menargetkan pasar kaum muda-mudi saja. Oleh karena itu, Radit berniat membuka warkafe yang bisa diisi oleh berbagai kalangan, tidak hanya tempatnya saja, tetapi juga menu yang disajikan. Tempatnya yang cukup strategis, yaitu di jalan perumahan warga yang ramai, cukup dekat stasiun, dekat dengan gereja, masjid, dan warung sayur (yang notabene pasti ramai) membuat warkafe ini serasa tidak pernah sepi.

Kedai Coffee Break, bangunan bertingkat di sebelah kiri jalan (source: Google maps)

_____ Setiap hari tidak hanya kaum pria dewasa, warkafenya Radit juga kerap kali didatangi anak muda, entah itu teman sekampusnya di Sampoerna University hingga anak muda dengan latar belakang yang beragam lainnya (termasuk kita anak-anak METI kelompok paling hore #fathan #andi #aku #mas fauzi yang tinggalnya jauh semua). Semakin malam, warkafenya makin ramai digandrungi orang-orang, tampak dari update nya yang selalu menunjukkan suasana ramai, mulai dari bermain gitar,merokok, mengerjakan tugas, dan megobrol santai sambil ditemani segelas kopi di mejanya. Pengalamanku ke sana berkali-kali membuktikan bahwa kedainya cukup oke untuk dijadikan tempat rehat sejenak, mulai dari sepulang aku ujian TOEIC, bertemu dengan klien, ataupun memang sengaja ingin main. Seiring berjalannya waktu, kedainya pun makin komplit dengan kehadiran mainan baru, menu baru, hingga router Wi-Fi.

Super susah buat ngumpulin 5 orang, tapi akhirnya jadi juga (source: personal gallery)

_____ Apa aja sih menunya??? Yang pertama dan yang paling utama ya….. Kopi. Mau disajikan espresso? bisa, mau yang nggak terlalu pahit? bisa pilih kopi susu gula aren, mau yang gak kopi karena masalah dengan asam lambung? bisa pilih smoothies. Sambil ngopi, enaknya dibarengi dengan makanan juga nih, mulai dari cwie mie, nasi goreng, atau yang ringan-ringan seperti kentang goreng pun ada. Bicara tentang Cwie Mie, mie nya sendiri dipesan langsung dari produsennya loh yang terletak di Malang, jadi beneran terasa ORI Malangnya. Ga cuma itu, mie nya pun berwarna hijau karena ditambahkan sayuran asli dalam pembuatannya. Mau yang lebih ringan lagi? Ada juga risoles dan aneka jajanan pasar buatan emack-emack setempat yang menitipkan dagangannya di warkafe Radit. Pokoknya nih tempat emang suasananya homey dan membumi banget deh.

Cappuccino (source: personal gallery)
Cwie Mie Hijau (source: personal snapshot)

_____ Untuk rasanya, menurutku cukup enak dan porsinya nggak “pelit medit bin bakhil kikir”. Karena aku suka kopi dan kadang perlu begadang (untuk main game), aku suka pesan kopinya double shot dan tentunya dengan harga yang terjangkau pula. Kita juga bisa memesan makanan atau minuman lainnya secara custom, jadi bisa disesuaikan mau seberapa pekat, seberapa pedas, dan sebagainya sambil bernego-nego dengan empunya toko. Bicara soal inovasi, ada hal yang menarik dari Radit karena ia mau belajar banyak hal dari siapa saja. Aku memberitahu Radit bahwa kopi susu itu akan lebih cocok kalau pakai susu pasteurisasi, apalagi susu segar, daripada susu UHT karena teksturnya akan lebih creamy dan lebih gurih rasanya. Sambil menjelaskan teori tentang pangannya sedikit pada Radit, aku sempat iseng-iseng jadi R&D dadakan warkafenya Radit, yaitu mencari pasangan susu yang cocok untuk kopinya hingga akhirnya kini di kedainya tersedia kopi susu varian lain, mulai dengan susu kedelai, susu pasteurisasi, hingga susu segar. Senang deh punya teman yang bisa sama-sama saling belajar dan mengajarkan.

Coba bandingkan antara kopi dengan susu UHT, pasteurisasi, dan susu segar. Pasti beda! (source: personal snapshot)

Lalu, Radit mau jadi Barista aja nih?

Penanya

_____ Nggak juga dong, karena warkafe miliknya ini hanya ingin dijadikan sebagai sampingan sahaja. Sambil mencari pekerjaan tetap di Ibukota, ia juga aktif mengajar matematika hingga Bahasa Inggris secara paruh waktu kepada beberapa murid SD. Tentu saja, sebagai orang Bali yang emang mengemban stereotype terbiasa dengan Bahasa Inggris dan dunia internasional, serta alumni mahasiswa Sampoerna sekaligus LSU (Louisiana State University), pastinya Bahasa Inggrisnya sudah tak diragukan lagi cas cis cusnya. Murid yang diajarnya pun bukan hanya sekedar murid SD biasa loh, ada juga muridnya yang ternyata anak dari salah satu tokoh pejabat yang mungkin sudah tak asing di telinga kita namanya. Meski sedang memikul 3 kewajiban sekaligus antara menjadi karyawan, pemilik kedai, dan pengajar, ia juga masih menyimpan ambisinya untuk belajar lebih lanjut di luar negeri lho. Dari katanya saat aku berkunjung terkahir, ia juga sedang mencari peluang untuk belajar di luar negeri, “LSU lagi juga boleh” katanya. Waahh… semoga kesampaian ya, dan sampai ketemu juga di luar negeri, kawan!

Ngajar anak pejabat yang masih SD (source: personal gallery)

_____ Kisah Radit ini mungkin bisa menjadi inspirasi pemuda jaman now, pemuda kekinian yang harus banget berambisi mengejar cita-cita selama hal tersebut merupakan hal yang baik. Apalagi, pemuda hanyalah sekedar gelas kosong dengan beberapa tetes cairan yang masih sangat mungkin untuk diisi dengan berbagai pengalaman, pelajaran, dan semangat sebelum akhirnya gelas ditutup.

Akhir kata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: